STIES GELAR WORKSHOP STRATEGI PERCEPATAN PENDIDIKAN DOKTOR
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sabang (STIES) Banda Aceh, Sabtu 18 Juli 2020 kemarin telah berhasil menggelar workshop tentang Strategi Percepatan Penyelesaian Pendidikan Program Doktor (S3) dan Strategi Percepatan Kenaikan Jabatan Fungsional (Jafung).
Acara yang berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga Pukul 17.00 WIB tersebut dibuka oleh Ketua STIES Banda Aceh, Rusman SE, MSi. Serta dihadiri oleh Wakil Ketua dan para dosen, juga staff STIES Banda Aceh.
Dalam acara workshop ini STIES menghadirkan dua orang guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala: Prof Dr Nasir Azis SE, MBA dan Prof Dr M Shabri SE, MEc sebagai narasumber, sehingga membuat acara workshop ini menjadi lebih penuh motivasi dan semangat kepada sederetan dosen STIES yang sedang menempuh pendidikan S3 untuk terus berpacu dalam mencapai gelar Doktor (S3).
“Tidak ada yang sulit di masa sekarang ini dan tidak ada alasan untuk berama-lama dalam menyelesaikan Pendidikan Doktor sekarang ini. Apalagi segala aktivitas sudah banyak disupport oleh teknologi yang sangat mendukung pada masa modern seperti sekarang ini”. Demikian pernyataan Prof Nasir dalam menyemangati para dosen STIES yang menghadiri acara workshop tersebut.
Guru Besar sekaligus Dekan FEB Unsyiah Prof Dr Nasir Azis SE MBA mengajak dosen STIES untuk sigap dalam pengurusan jabatan fungsional. Menurut Prof Nasir dalam pengurusan jabatan fungsional dosen ada yang susah. Hanya saja kita perlu merencanakan dan punya target. "Setiap dua tahun harus naik jabatan fungsional atau pangkat. Karena itu bukan hak tapi kewajiban," kata Prof Nasir saat menjadi narasumber pada kegiatan Workshop Strategi Percepatan Jabatan Fungsional dan Penyelesaian S3 bagi Dosen STIES Sabtu (18/7/20) yang berlangsung di aula kampus STIES.
Lebih lanjut Prof Nasir mengingatkan kepada dosen yang akan mengurus kenaikan jabatan fungsional maupun kepangkatan untuk mempedomani Petunjuk Operasional (PO) terbaru. Hal pertama yang harus dicermati adalah apa syarat khusus yang diminta. Misalnya, untuk ke guru besar dari Lektor Kepala IV/c harus memiliki dua artikel yang terpublikasi di jurnal internasional bereputasi. "Biasanya kita di Indonesia ini yang banyak jadi rujukan adalah jurnal terindeks Scopus. Walaupun sebenarnya ada indeks lainnya yang juga bereputasi seperti Thomson Reuters,"papar Prof Nasir.
Diakuinya memang yang menjadi masalah utama bagi dosen kita adalah dalam menyiapkan publikasi di jurnal terindeks Scopus. Menurut Prof Nasir jika dikerjakan dan dimulai dengan serius tidak ada yang tidak bisa. Kita bisa belajar dan bertanya ke banyak pihak "Kita ada Prof Shabri untuk bertanya dan berdiskusi tentang publikasi. Bisa diskusi kapan saja dan gak perlu pakai bahasa Inggris. Ngon bahasa Aceh pih jeut,"pungkas Prof Nasir disambut derai tawa para dosen yang hadir.
